Titik Balik Kehidupan Ari Sudewo

Wednesday, April 21, 2010 7:55 | 839 views
Posted in category Chit Chat

Ini dapet artikel lumayan bagus dari koran. Cerita tentang seorang Ari Sudewo yang menjalani suka duka kehidupan.

Hidup bagaikan roda yang berputar. Falsafah ini diakui oleh Ari Sudewo, sebagai sebuah kepastian. Berada dipuncak hidup dengan segala kekayaan materi dan popularitas pernah menjadi bagian dari perjalanannya. Sebaliknya, ada titik terendah hingga tergilas roda kehidupan pun pernah ia alamai. “Tak sekadar di bawah, tapi kalau seperti roda sepeda, saya menempel di ban luar. Jadi sampai terlindas dan terinjak-terinjak pun pernah saya rasakan,” ujara perancang busana kenamaan ini sungguh-sungguh kepada minggu pagi.Tahun 1988 bisa dibilang tahun sakral untuk Ari. Tahun inilah yang menjadi titik balik kehidupannya. Berdasarkan penuturan Ari, memuja kenikmatan duniawi. Materi pun banyak bergelimangan atas namanya. “Saya dulu istilahnya biang dugem. Pokoknya, tiada hari tanpa pergi ke dikotek. Minum-minum sudah pasti. Saya juga bnyak jalan ke mana-mana, karena memang hobi travelling,” kenanngnya.Bak membalikkan telapak tangan, semudah itu pula kehidupan Ari Sudewo berubah. Dengan tujuan menamabah kemakmuran, ia menginvestasikan uangnya dalam bisnis tambak udang dan jual beli kayu bertuah. Ternyata Tuhan belum memberinya ijin ke arah sana. Ari justru menjadi korban penipuan. Harta miliknya senilai Rp. 100-an juta melayang tak ketahuan rimbanya. Pada masa itu,angka Rp 100-an juta tentu bukan jumlah yang sedikit.

Usaha Ari pun kolaps. Rumah yang juga menjadi tempat usahanya terpakasa ia jual lantaran tak mebawa kemajuan bisnis. Jika sebelumnya¬† ia bisa melanglang sambil mengendarai mobil, maka setelah jatuh Ari pasrah dengan kendaraan umum dan sepeda. Momen ini menjadi saran ari untuk intropeksi diri dan memperbaiki gaya hidupnya. “Saya kurangi yang namanya dugem dan minum-minum. Saya mencoba realistis, ya. Pertama, ini untuk efisiensi uang. Kedua, kalau saya dugem dan minum-minum, otomatis kondisi fisik saya terganggu, padahal saya butuh energi ekstra untuk kembali memabngun usaha,” papar Ari.

Ari pun jadi lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Ia mulai menata ibadahnya, termasuk melakukan solat malam. menurut Ari solat malam menjadi sarana paling komunikasi paling efektif dengan Tuhan. Di sana ia bisa benar-benar khusuk, bahkan sampai menangis. Ia juga diingatkan kembali pada kedua almarhum orang tuanya.

Ini salah satu mukjizat yang saya peroleh. Waktu saya mau jual rumah, susahnya bukan main. Sampai berbulan-bulan rumah itu nggak laku-laku. Lalu saya berkesempatan ziarah ke makam orangtua saya di Sumedang. Saya bawakan air untuk menyiram makan dari rumah lama yang mau dijual. Di sana saya berdoa dan menangis. Selang 3-4 hari kemudian, jam 11 mlam ada orang medatangi saya, buat membeli rumah saya,” kata Ari bersemangat. “Kalau orang bilang, ngapain sih mesti jauh-jauh ke makam, kan yang namanya doa bisa dikirim dari mana saja. Tapi buat saya, jika memang bisa, ziarah dan berdoa langsung di mkam orangtua lebih baik.”

Gengsi Tinggi

Cobaan ini membuat Ari menjadi orang yang lebih berkualitas. jika dulu ia memiliki rasa gensi tinggi, sekarang tidak lagi. Ari bisa menerima keadaan dengan lapang dada dan penuh kepasrahan. Ia jadi lebih menghargai hal-hal yang ada disekitarnya, termasuk keberadaan orang lain. Dengan begitu, ia justru merasa ebih ringan menjalani hidup, tanpa beban. Selain itu, Ari juga menerima pelajaran berharga untuk selalu bersyukur. “Masa lalu adalah pelajaran. Kalau memang sudah terjadi, mau diapakan lagi ? Yang penting bagaimana kita kedepannya tetap mejalani hidup dengan penuh semangat,” katanya optimis.

Ari juga percaya bahwa mukjizat tenyata banyak hadir dalam kehidupan sehari-hari. Meski itu hanya hal-hal sepele seperti yang ia alami. Misalanya, ketika ia sedang tak punya uang, tiba-tiba ada pelanggan yang datang untuk membeli bajunya. “Manusia saja yang tidak sadar dengan apa yang telah ia dapat.

Di comot dari Minggu Pagi, Minggu ke-3 April 2010.

Baca ini juga :

2 Responses to “Titik Balik Kehidupan Ari Sudewo”

  1. syaipul says:

    08 May 2010 at 2:56 pm

    ;-) kayaknya gue masih pingin baca lebih banyak lagi tentang ari sudewo sampai ia sukses sebagai entrepreneur sosial dari Dompet Dhua’fa Republika, perjalanannya, sepakterjangnya yang tidak pernah putus asa dalam memulai perubahan untuk kemandirian

    [Reply]

  2. ari says:

    21 November 2013 at 6:30 am

    terina kasih atas doa& supportnya , sy mengucap syukur dng smua cobaan yg sy dpt sbg anugrah dr Allah SWT< amin

    [Reply]

Leave a Reply